-->

Isu Kontemporer tentang Teologi Islam

fikriamiruddin.com - Dasar keprihatinan dalam berteologi lantaran adanya klaim kebenaran tunggal khususnya agama Semit dan adanya persoalan ketidakadilan sosial. Di mana agama oleh sebagian pemeluknya dimaknai, yang tidak mendukung pluralisme, pembebasan, dan seterusnya. Alasan-alasan ini secara riil dijelaskan oleh Nur Khalik Ridwan di antaranya sebagai berikut.

Teologi Islam

Pertama, munculnya keangkuhan dari sebagian pemeluk agama formal-besar sebagai hal yang akan paling selamat dan paling orisinal, sementara agama-agama kecil, atau agama lokal dipandang sebagai hal yang sesat dan perlu “diagamakan” kembali dalam pengakuan agama-agama besar-formal. Keangkuhan-keangkuhan semacam inilah yang mewarnai pemaknaan kita selama ini mengenai agama dan keberagamaan kepada orang lain.

Orang lain kita ukur kebenarannya dengan “diri kita sendiri”, padahal orang lain juga memiliki ukuran-ukuran terhadap diri mereka sendiri, apalagi kalau ukuran-ukuran yang kita buat, sekedar sebagai kreasi semata, ijtihad semata, dan bisa jadi sebenarnya cuma stigma semata. Itulah yang disebut beliau sebagai kategori beragama eksklusif dan komunal yang cenderung membenarkan dirinya sendiri dan tidak mengakui adanya kemungkinan kebenaran di luar dirinya.

Kedua, agama di mana pun dan untuk siapa pun adalah soal keyakinan seseorang mengenai sesuatu hal yang dianggap sakral, lantaran merupakan keyakinan terdalam, maka tidak boleh ada paksaan di dalamnya, beragama merupakan hak asasi setiap orang dan kebebasan yang diberikan Tuhan yang perlu dihargai, sebagaimana juga orang menghargai para pemeluk agama formal.

Keyakinan merupakan persoalan kebebasan individu yang perlu dijamin oleh siapa pun, termasuk mesti dilindungi dan dijamin hak-haknya oleh Negara/pemerintah. Oleh karena itu, kebebasan beragama adalah soal keyakinan individu, bukan soal birokrasi negara. Soal seorang diri, bukan soal orang lain, soal pemenuhan spiritualitas diri, bukan asal masuk komunitas, dan begitu seterusnya.

Ketiga, munculnya klaim agama Semitis (Islam, Kristen, Yahudi) bahwa mereka penerus dari agama Ibrahim. Ibrahim diklaim sebagai bapak agama-agama Semitis dan bapak para nabi. Namun, keanehan semua itu, lantaran “Agama Ibrahim” itu sendiri tidak pernah direkonstruksi, diperjelas, sehingga tampak sebuah tipologi “Agama Ibrahim”. Lebih aneh lagi, ketika terdapat perbedaan dalam memaknai tradisi Ibrahim di antara ketiga komunitas tersebut, sebagian besar membenarkan dirinya dengan menyalahkan orang lain.

Baca Juga: Pandangan tentang Akal dan Wahyu dalam Teologi Islam

Keempat, di antara sebagian kalangan agama, agama malah dimaknai secara simbolik. Kesalehan-kesalehan agama justru dirumuskan dengan hal-hal yang bersifat ritual dan yang bersifat pribadi dengan Tuhan. Hal tersebut tentu tidak salah, hanya saja ketika hal semacam itu dipandang sebagai satu-satunya kebenaran, akan dengan mudah pula agama melupakan tugasnya atas kemanusiaan.

Agama tidak memiliki kepekaan sosial, tidak ada lagi tuntutan serius, misalnya mengenai persoalan membela keadilan dan membantu kelompok-kelompok lemah. Mereka yang telah memenuhi praktik-praktik ritual, akan dengan sendirinya dipandang sebagai hal sangat saleh. Orang lebih mementingkan naik haji berkali-kali daripada membantu sahabatnya yang susah makan.

Dengan empat dasar pemikiran di atas, Nur Khalik Ridwan kemudian menggagas “Agama Kebajikan” yakni, sebuah jalan spiritual yang bisa dimaknai pula sebagai perspektif beragama, dengan menempatkan kebajikan sebagai titik tolak dasar beragama, dan menegaskan mutlaknya menerima pluralisme dan pembebasan, atau dengan bahasa lain disebut “teologi menggagas pluralisme dan pembebasan”.

Sedang konteks berteologi yang digunakan adalah fakta akan adanya kebajikan dan kedustaan di mana pun dan di komunitas agama apa pun, konteks asal-usul kelahiran agama, dan konteks “Agama Ibrahim” yang sering dijadikan rujukan kalangan agama Semit. Selanjutnya dijelaskan mengenai konstruk Agama kebajikan yang didasarkan pada teologi Islam. Sehingga kemudian akan dibahas di manakah letak titik temu semua agama, siapakah sumber kebajikan, bagaimana soal memilih agama, dan soal mempraktikkan ritual keagamaan.

Baca Juga: Pandangan tentang Perbuatan Tuhan dan Manusia dalam Teologi Islam

Apakah syarat terdasar keselamatan beragama dan kebajikan ada dalam hal apa serta apa yang perlu didekonstruksi dari konsep-konsep kunci yang selama ini ditafsirkan secara komunal dan non-pembebasan seperti halnya ibadah dan musyrik, kafir, murtad, jihad, khatam al-anbiya, dan soal penegakan identitas atau simbol agama.

Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Pendapat Aliran Teologi tentang Iman dan Kufur. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

0 Response to "Isu Kontemporer tentang Teologi Islam"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel