-->

Pembelajaran Olahraga melalui Aktivitas Senam Lantai

fikriamiruddin.com - Senam lantai termasuk salah satu jenis olahraga senam yang juga turut serta diperlombakan. Sesuai dengan penyebutannya, maka gerakan atau aktivitas senam lantai dilakukan di atas lantai atau sebuah matras. Dalam pelaksanaannya, olahraga senam lantai membutuhkan kekuatan dan kelenturan tubuh. Hal itu lantaran gerakan senam lantai membutuhkan koordinasi semua anggota badan.

Senam Lantai

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), senam lantai merupakan aktivitas senam yang memiliki jenis gerakan mirip seperti balet, namun dilakukan tanpa alat bantu apa pun. Dalam bahasa Inggris, senam lantai dikenal dengan istilah floor excercise, yakni gerakan senam yang dilakukan di atas lantai yang dilapisi dengan kain atau bantalan. Lantai yang digunakan dalam perlombaan resmi senam lantai memiliki ukuran 12 meter persegi atau setara 40 kaki.

Senam lantai ini memadukan antara ritme dan harmoni yang memungkinkan para pesenamnya bergerak secara bebas untuk memanfaatkan area. Senam lantai ini cukup mengutamakan keseimbangan, kekuatan, kelenturan, dan ketajaman untuk pesenam putra. Sedangkan untuk pesenam putri cukup membutuhkan keluwesan, irama, dan kelenturan tubuh. Sementara itu, durasi senam lantai sendiri untuk putra maupun putri berbeda.

Untuk putra durasinya 50 hingga 70 detik, sedangkan untuk putri durasinya 70 hingga 90 detik. Dalam hal ini, ketika melakukan berbagai gerakan hampir semuanya menjaga kontak atau bersentuhan dengan lantai.

Olahraga senam sendiri mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia sekitar tahun 1912, yakni bertepatan dengan masa penjajahan Pemerintah kolonial Belanda. Masuknya olahraga senam ini juga bertepatan dengan penetapan pendidikan jasmani sebagai salah satu mata pelajaran wajib yang harus diajarkan di sekolah-sekolah. Hal itu lantaran, senam merupakan salah satu bagian dari penjaskes, sehingga secara otomatis senam juga ikut diajarkan di sekolah-sekolah.

Pada saat itu masyarakat pertama kali kenal jenis senam versi Jerman. Yakni, senam yang menekankan pada kemungkinan berbagai gerakan yang kaya akan alat pendidikan. Berikutnya pada tahun 1916, sistem tersebut digantikan dengan sistem Swedia yang lebih menekankan pada manfaat gerakan tubuh. Sistem ini sendiri diciptakan dan dibawa langsung oleh seorang perwira kesehatan yang berasal dari angkatan laut kerajaan Belanda, yakni Dr. H.F. Minkema.

Baca Juga: Pembelajaran Olahraga melalui Aktivitas Kebugaran Jasmani

Melalui Minkema ini kemudian aktivitas atau kegiatan senam di Indonesia mulai menyebar hingga berbagai daerah. Ketika tahun 1918 Minkema kemudian membuka kursus senam Swedia yang salah satunya bertempat di Kota Malang dan diperuntukkan khusus bagi para tentara dan guru. Meskipun demikian, awal mula penyebaran senam ini diyakini juga berasal dari Bandung. Hal itu lantaran sekolah pertama yang berhubungan dengan senam didirikan di Kota Bandung pada tahun 1922 pada saat dibukanya MGSS (Militaire Gymnastiek en Sporschool).

Lantas kemudian mereka yang telah lulus dari sekolah tersebut nantinya akan menjadi instruktur senam versi Swedia di beberapa sekolah. Melihat pesatnya pertumbuhan senam yang baik, kemudian MGSS mulai membuka cabang di beberapa kota lainnya antara lain Bogor, Surakarta, Medan, dan Probolinggo.

Pada tahun 1942 saat negara Jepang masuk ke Indonesia, olahraga senam tersebut mulai redup. Sebab Pemerintah Jepang melarang semua bentuk senam yang ada di sekolah dan lingkungan masyarakat. Alhasil mereka menggantinya dengan “Taiso”, yakni sejenis senam pagi yang berbentuk kalestenik dan saat itu wajib dilakukan di sekolah-sekolah sebelum aktivitas pembelajaran dimulai.

Taiso ini diiringi dengan musik radio yang disiarkan secara serentak. Sebelum melakukan beberapa gerakan Taiso, para murid diwajibkan untuk memberi hormat kepada Kaisar Jepang. Hal itu dilakukan dengan cara mengikuti aba-aba yang dikumandangkan oleh instruktur. Berikutnya para peserta menghadap ke utara (Tokyo) sebagai tempat Kaisar berada. Setelah melakukan senam, peserta juga diharuskan untuk melakukan penghormatan kepada Kaisar Jepang.

Namun, kepopuleran Taiso ini tidak berlangsung lama dikarenakan rakyat Indonesia dengan gigih menentang kegiatan Taiso. Alhasil, pada akhirnya senam yang diajarkan di beberapa sekolah pun kembali pada senam yang dahulu dipakai pada masa penjajahan Belanda. Karena olahraga senam ini semakin populer, kemudian didirikanlah sebuah wadah organisasi yang bertujuan membina para atlet senam berbakat.

Organisasi tersebut kemudian dibentuk pada tanggal 14 Juli tahun 1963 dan diberi nama PERSANI (Persatuan Senam Indonesia). Organisasi ini pertama kali diketuai oleh R. Suhadi. Kemudian pada tahun 1964, Indonesia mendelegasikan diri untuk pertama kali ikut dalam perlombaan senam lantai bertaraf Internasional di GANEFO I (Games of the New Emerging Forces) yang saat itu Indonesia yang menjadi tuan rumahnya.

Beberapa negara yang ikut berpartisipasi dalam cabang senam tersebut antara lain Cina, Rusia, Korea, Mesir, dan Indonesia. Adapun cabang senam lainnya yang juga ikut dipertandingkan adalah senam artistik. Sejak kegiatan Genefo itulah, kemudian senam artistik juga mulai dikenal luas di Indonesia. Sehingga pada tahun 1969, senam tersebut dipertandingkan untuk pertama kalinya di PON VII di Surabaya.

Sederhananya, unsur-unsur gerakan dalam senam lantai terdapat enam unsur di antaranya sebagai berikut. Pertama, unsur keindahan. Keindahan ditumbuhkan dengan cara membuat beragam variasi gerakan yang digunakan dari disiplin tari dan akrobat. Misalnya dengan berbagai gestur dalam tari balet serta gerakan-gerakan kecil yang mengandung unsur tari. Kedua, unsur kekuatan. Kekuatan tentu saja akan menjadi unsur terpenting dalam senam lantai.

Baca Juga: Pembelajaran Seni Bela Diri melalui Aktivitas Pencak Silat

Hal itu lantaran beberapa gerakan yang ekstrim hanya bisa dilakukan apabila seorang atlet mau dan juga melebarkan jangkauan energi tubuhnya, melalui latihan-latihan dasar senam lantai. Ketiga, unsur keberanian. Senam lantai dan senam artistik lainnya akan memerlukan keberanian tersendiri untuk melakukannya. Sebab dalam senam lantai, seorang atlet dituntut agar bisa mengalahkan rasa takutnya sendiri.

Sehingga ia mampu dan berani melakukan gerakan yang cukup ekstrim. Serta tetap bisa menjaga keseimbangan, keluwesan dan juga keindahan geraknya. Keempat, unsur kelenturan. Tubuh yang lentur mempunyai fleksibilitas tinggi untuk melakukan berbagai jenis gerakan sulit, misalnya kayang, salto, meroda, guling, dan lain sebagainya. Kelenturan juga menjadi hal yang penting guna menciptakan gerakan-gerakan yang estetis.

Kelima, unsur keluwesan. Keluwesan gerak pada waktu melakukan performativitas tubuh akan menandakan ketekunan dan juga kedalaman latihan yang telah dilakukan oleh seorang atlet. Dalam sekali penampilan, seringkali seorang atlet telah melakukan gerakan tersebut berulangkali agar pada saat melakukannya lagi, ia tidak lagi canggung dan bingung. Keenam, unsur keseimbangan.

Tanpa keseimbangan yang baik, rasanya akan cukup mustahil bagi seorang atlet untuk bisa melakukan performa terbaiknya. Alih-alih ia akan jatuh duluan sebelum melompat apabila keseimbangan seorang atlet tidak bisa dikelola dengan baik.

Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Pembelajaran Atletik melalui Aktivitas Tolak Peluru. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

0 Response to "Pembelajaran Olahraga melalui Aktivitas Senam Lantai"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel