-->

Mengenal Biografi Abu Hasan al-Asy’ari

fikriamiruddin.com - Abu Hasan Ali bin Ismail bin al-Asy’ari yang kemudian terkenal dengan nama al-Asy’ari lahir di Basrah. Ulama berbeda pendapat mengenai kapan al-Asy’ari dilahirkan. Ibn Khalilkan berpendapat bahwa al-Asy’ari lahir pada tahun 260 atau 270/873 atau 883 dan wafat di Baghdad pada tahun 330/941 atau beberapa tahun setelah itu. Ia dimakamkan di antara Karkh dan Bab al-Basrah.
Mengenal Biografi Abu Hasan al-Asy'ari

Beliau adalah keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari salah seorang sahabat Nabi yang cukup terkenal. Ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mengikuti faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Ayahnya, Ismail adalah seorang ulama ahli Hadis yang menganut faham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Hal tersebut terbukti, bahwa ketika menjelang wafat, ia berwasiat agar al-Asy’ari diasuh oleh al-Imam al-Hafizh Zakariya al-Saji, pakar Hadis dan fikih mazhab al-Syafi’i yang cukup populer di Kota Basrah.

Hanya saja, ia setelah berusia sepuluh tahun perkembangan ini berubah, setelah al-Asy’ari berusia sepuluh tahun, ibunya menikah dengan Abu Ali al-Jubba’i, tokoh Mu’tazilah terkemuka di Basrah, sehingga sejak saat itu al-Asy’ari menekuni akidah Mu’tazilah kepada ayah tirinya, sampai akhirnya al-Asy’ari benar-benar menjadi pakar terkemuka di kalangan Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun.

Hubungan yang cukup dekat ini menjadikan al-Asy’ari memiliki kecerdasan yang luar biasa dan kemampuan yang hebat dalam membungkam lawan debatnya, sehingga tak jarang al-Asy’ari mewakili Abu Ali al-Jubba’i, gurunya dalam forum perdebatan dengan kelompok luar Mu’tazilah. Dalam berbagai forum perdebatan, al-Jubba’i seringkali berkata kepada al-Asy’ari, “Gantilah posisiku dalam perdebatan”.

Menurut data sejarah sebagaimana dikutip oleh Muhammad Idrus Ramli yang disampaikan oleh para ulama, seperti al-Hafizh bin ‘Asakir al-Dimasyqi, Syamsuddin bin Khalilkan, al-Imam Tajuddin al-Subki dan lain sebagainya. Setidaknya terdapat dua hal yang melatarbelakangi perpindahan al-Asy’ari dari Mu’tazilah ke Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Pertama, ketidakpuasan al-Asy’ari terhadap ideologi Mu’tazilah yang selalu mendahulukan akal namun tak jarang menemukan jalan buntu dan mudah dipatahkan dengan argumentasi akal yang sama. Terdapat riwayat lain yang menyatakan bahwa sebelum al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah, ia tidak keluar rumah selama 15 hari.

Baca Juga: Tokoh, Ajaran dan Dalil Qadariyah

Kemudian pada hari Jum’at setelahnya, ia keluar ke Masjid Jami’ dan naik mimbar sambil berpidato: “Sebenarnya saya telah menghilang dari kalian selama lima belas hari ini adalah untuk meneliti dalil-dalil semua ajaran yang ada. Ternyata saya tidak menemukan jalan keluar. Dalil yang satu tidak lebih kuat daripada dalil yang lain. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah Swt, dan ternyata Allah menunjukkan petunjuk-Nya kepadaku untuk meyakini apa yang saya tulis dalam beberapa kitab ini.

Mulai saat ini, aku mencabut semua ajaran yang selama ini aku yakini. Kemudian ia menyerahkan kitab yang ditulis sesuai dengan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah antara lain: Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Zaygh wa al-Bida’, kitab yang memaparkan kerancuan Mu’tazilah yang berjudul Kasf al-Astar wa Hatk al-Asrar”.

Terdapat riwayat lain yang mengisahkan perdebatannya dengan Abu Ali al-Jubba’i, gurunya. Suatu ketika al-Asy’ari berdialog dengan al-Jubba’i, al-Asy’ari, “Bagaimana pendapatmu mengenai nasib tiga orang yang meninggal dunia, satunya orang mukmin, satunya orang kafir, dan yang satunya lagi anak kecil?” al-Jubba’i, “Orang mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir akan celaka dan anak kecil akan selamat”.

Al-Asy’ari, “Mungkinkah anak kecil tersebut meminta derajat yang tinggi kepada Allah?” Al-Jubba’i, “Oh tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu, “Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi, kamu tidak bisa memperoleh derajat itu.” Al-Asy’ari, “Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu.”

Al-Jubba’i, “Oh, tidak bisa, Allah akan menjawab,” Oh, bukan begitu, justru Aku telah mengetahui, bahwa apabila kamu diberikan umur panjang, maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu akan disiksa. Karena itu, demi masa depanmu, aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu menginjak usia taklif.” Al-Asy’ari, “Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku.

Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu kecil dulu, sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu, dan mengapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir dan akhirnya aku disiksa seperti sekarang ini?” Mendengar pertanyaan al-Asy’ari ini, al-Jubba’i menghadapi jalan buntu dan tidak mampu memberikan jawaban. Al-Jubba’i, hanya berkata: “Kamu hanya bermaksud merusak keyakinan yang telah ada”.

Baca Juga: Pengertian Qadariyah yang Perlu Diketahui

Al-Asy’ari, “Aku tidak bermaksud merusak keyakinan yang selama ini anda yakini. Namun, guru tidak bisa menjawab pertanyaanku.” Dalam hal ini, al-Jubba’i terpaksa diam. Terlepas dari soal sesuai atau tidak sesuainya uraian-uraian di atas dengan fakta sejarah, jelas terlihat bahwa al-Asy’ari sedang dalam keadaan ragu-ragu dan tidak merasa puas lagi dengan aliran Mu’tazilah yang dianutnya selama ini.

Kedua, bermimpi bertemu Nabi Muhammad Saw. Suatu ketika, pada awal Ramadhan, al-Asy’ari tidur dan bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau berkata: Wahai Ali, tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar.” Setelah terbangun, al-Asy’ari merasakan mimpi itu sangat berat dalam pikirannya. Ia terus memikirkan apa yang dialaminya dalam mimpi.

Pada pertengahan bulan Ramadhan, ia bermimpi lagi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw dan beliau berkata: “Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu?” al-Asy’ari menjawab: “Aku telah memberikan pengertian yang benar terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan darimu.” Nabi Muhammad Saw berkata: “Tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar.”

Setelah terbangun dari tidurnya, al-Asy’ari merasa sangat terbebani dengan mimpi itu. Sehingga ia bermaksud meninggalkan ilmu kalam. Ia akan mengikuti Hadis dan terus membaca al-Qur’an. Namun, pada malam 27 Ramadhan, tidak seperti biasanya, rasa kantuk yang begitu hebat menyerangnya, sehingga ia pun tertidur dengan rasa kesal dalam hatinya, lantaran telah meninggalkan kebiasaannya tidak tidur malam untuk beribadah kepada Allah.

Dalam tidur itu ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad Saw untuk ketiga kalinya. Nabi Muhammad Saw berkata: “Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu? Ia menjawab: “Aku telah meninggalkan ilmu kalam, dan aku konsentrasi menekuni al-Qur’an dan Hadis. Nabi Muhammad Saw berkata: “Aku tidak menyuruhmu meninggalkan ilmu kalam. Namun, aku hanya memerintahmu menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar.”

Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, bagaimana aku mampu meninggalkan mazhab yang telah aku ketahui masalah-masalah dan dalil-dalilnya sejak tiga puluh tahun yang lalu hanya karena mimpi?” Nabi Saw berkata: “Aku tidak tahu bahwa Allah akan menolongmu dengan pertolongan-Nya.” Setelah bangun dari tidurnya, al-Asy’ari berkata: “Selain kebenaran pasti hanya kesesatan.”

Kemudian ia mulai membela hadis-hadis yang berkaitan dengan ru’yah (melihat Allah di akhirat), shafa’ah dan lain-lain. Ternyata setelah itu, al-Asy’ari mampu memaparkan kajian-kajian dan dalil-dalil yang belum pernah dipelajarinya dari seorang guru, tidak dapat dibantah oleh lawan dan belum pernah dibacanya dalam suatu kitab. Atas dasar inilah, ia kemudian menyusun posisi teologi baru yang mendukung wahyu dengan menggunakan akal. Sudah barang tentu pendapatnya meletakkan akal di bawah wahyu.

Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Pemikiran Ja’d bin Dirham dan Dalil Jabariyah. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

0 Response to "Mengenal Biografi Abu Hasan al-Asy’ari"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel