-->

Pandemi Menyelamatkan Anak dari Teror Ketakutan di Sekolah

fikriamiruddin.com - Menurut kalian apa yang menyebabkan anak malas untuk berangkat ke Sekolah? Tak bisa dipungkiri realitas banyak anak yang memilih bolos, keluar saat jam pelajaran, dan bahkan memilih untuk tidak bersekolah salah satunya adalah Sekolah yang menjelma menjadi tempat angker, horor, mencekam, penuh bentakan-bentakan, dan tak jarang disertai dengan kekerasan baik verbal, fisik, maupun simbolik.
Pandemi Menyelamatkan Anak dari Teror Ketakutan di Sekolah

Ketika belum ada pandemi corona dan kegiatan belajar masih berjalan normal, saya lantas mengamati anak-anak ketika berangkat ke Sekolah, mereka nampak cemas seperti dibebani oleh perasaan takut cukup berlebih. Selain harus mandi pagi dan berangkat Sekolah sepagi mungkin, mereka juga menghabiskan sepertiga waktunya di Sekolah. Bahkan tak jarang banyak sekolah yang menerapkan sistem fullday school.

Coba amati kegembiraan anak-anak di sekitar tempat tinggal kalian ketika bel pulang sekolah di bunyikan. Kita akan disuguhkan keriangan mereka mirip seperti napi yang mendapatkan asimilasi dan bebas dari penjara. Pertanyaannya apa yang sebenarnya terjadi dalam proses pembelajaran di Sekolah?

Kenapa anak-anak nampak tidak bersemangat dan bahkan banyak yang menganggap pergi ke sekolah adalah sebuah beban? Bukannya keberanian yang diproduksi, justru sebaliknya Sekolah banyak menanamkan ketakutan dalam diri setiap anak.

Baca Juga: Rekomendasi Tugas yang Bisa Diberikan Guru di Masa Pandemi Corona

Coba kita amati adik atau tetangga kita! Pada pagi hari ketika berangkat ke Sekolah mereka dibayangi ketakutan terlambat tiba di Sekolah. Ketika sampai di Sekolah, mereka dibayangi ketakutan kelengkapan atribut mulai dari dasi, sabuk, warna kaos kaki, dan warna sepatu yang harus hitam polos. Tak hanya itu, bagi anak laki-laki akan dicek potongan rambut dan panjang kuku untuk laki-laki dan perempuan.

Ketika masuk kelas, mereka lantas menyiapkan PR atau tugas yang diberikan Guru pada pertemuan sebelumnya. Ketika Guru memasuki kelas, anak-anak mulai terdiam membisu dan seakan bersiap menerima pelajaran. Saat pelajaran berlangsung kadangkala anak-anak dijejali beberapa pertanyaan oleh Gurunya. Seperti biasa, saat itu kelas seketika menjadi hening dan tidak ada yang berani bertanya.

Kenapa mereka takut untuk bertanya? Hal itu lantaran ketika mereka mencoba menanyakan sesuatu, Guru hanya akan menganggap anak tersebut kurang baca dan tidak mendengarkan penjelasan Guru. Padahal, kemampuan anak untuk menyerap pelajaran itu berbeda-beda, dan hal itulah yang kerapkali luput dari perhatian Guru. Saat tidak ada pertanyaan yang terlontar, biasanya Gurulah yang akan ganti menanyakan sesuatu.

Di saat seperti ini, anak-anak lantas semakin ketakutan untuk ditunjuk dan menjawab pertanyaan dari Guru. Kira-kira apa yang membuat mereka takut? Ketika saya menanyakan hal itu kepada adik dan tetangga saya yang masih bersekolah, kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa ketika mereka mencoba menjawab pertanyaan dan salah, maka Guru akan menertawakannya di depan teman-temannya.

Tak cukup itu saja, ketika diminta membuka buku paket dan membacanya, secara tidak langsung mereka akan menemui yang namanya “kekerasan simbolik”. Di buku paket terutama BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang menjadi bahan ajar di sekolah. Kebanyakan yang ditampilkan di sana adalah kehidupan orang-orang kelas atas. Seperti anak usia SD yang sudah memiliki kamar sendiri, halaman rumah yang luas, garasi, kepemilikan laptop, hape, dan lain sebagainya.

Padahal realitanya banyak dari anak didik yang bahkan tinggal di petak-petak kamar kos di perkotaan. Alih-alih memiliki halaman yang luas, tidur tidak berdesak-desakan saja sudah bersyukur. Ditambah lagi kepemilikan beragam fasilitas seperti hape dan laptop. Lantas kemudian hal inilah yang menjadikan anak-anak minder, kurang percaya diri, dan bahkan merasa kurang beruntung.

Baca Juga: Postingan Akun Instagram Jerinx Terkait Teori Konspirasi dan Pelajaran yang Bisa Kita Petik

Apakah berhenti sampai di sini? Tentu saja tidak, ketika anak-anak mulai kritis dan bahkan berani mengkritik Guru dan Kepala Sekolahnya dianggap “kurang ajar”. Bahkan kreatifitas anak dan kenakalan remaja yang wajar dianggap sesuatu yang berbahaya. Sehingga tak sedikit Guru yang melakukan tindak kekerasan verbal dan bahkan ada juga yang sampai pada kekerasan fisik.

Dalam hal ini Thomas Hobbes berpendapat dan meyakini bahwa “Anak-anak bisa dikendalikan dan diatur asalkan dibuat dirinya untuk terus merasa takut”. Kekuatan rasa takut itulah yang kemudian disemai dalam dunia pendidikan melalui penerapan aturan dan pemberlakuan sanksi dan hukuman. Hal inilah yang memang dengan sengaja diterapkan di banyak sekolah-sekolah.

Kemudian jangan salahkan anak-anak, ketika mereka mulai melawan dan bahkan melampiaskannya dengan hal-hal negatif seperti tawuran, minum-minuman keras dan bahkan narkoba. Ya, mereka terlalu tertekan oleh aturan-aturan di sekolah, tekanan dari para Guru, dan bahkan ketakutan tidak naik kelas atau lulus sekolah.

Kemudian apakah masa pandemi yang mengharuskan mereka belajar di rumah ini lantas akan menyelamatkan mereka dari teror ketakutan-ketakutan yang selama ini mengintai?

Menurut saya iya, meskipun itu berlaku sementara. Setidaknya sementara mereka bisa melepaskan bayang-bayang rasa takut terlambat datang ke Sekolah lalu dihukum, ketakutan tidak mengerjakan tugas, ketakutan intimidasi Guru yang kerap melontarkan pertanyaan dan menertawakan jawaban ketika salah, dan bahkan ketakutan kekerasan verbal sampai fisik yang kerapkali mengintai di Sekolah.

Setidaknya mereka saat ini sedikit tenang di rumah, apalagi bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang selanjutnya sudah tidak perlu dibayangi lagi dengan hadirnya Ujian Nasional. Namun, semua ini lantas tidak selesai begitu saja. Ketika pandemi berakhir, ketika Sekolah mulai berjalan normal, ketakutan-ketakutan itu akan selalu meneror dan mengancam kebebasan berekspresi dan kreatifitas anak.

Intinya, Ketakutan adalah metode paling efektif yang dijalankan oleh penguasa pendidikan.

Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Sosok Kekeyi dan Perjuangan Melawan Stereotip. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

0 Response to "Pandemi Menyelamatkan Anak dari Teror Ketakutan di Sekolah"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel