-->

Dampak Modernisasi dan Perubahan Sosial

fikriamiruddin.com - Maksud dampak modernisasi dalam hal ini adalah perubahan yang biasanya terjadi bersamaan dengan usaha modernisasi. Perubahan itu dapat terjadi dalam enam bidang besar di antaranya demografi, sistem stratifikasi, pemerintahan, pendidikan, sistem keluarga, dan nilai, sikap serta kepribadian. Perubahan demografis yang terjadi bersamaan dengan upaya modernisasi mencakup pertumbuhan penduduk dan perpindahan dari kawasan pedesaan ke kawasan perkotaan.

Modernisasi

Jadi ciri khas dari perubahan demografis dalam proses modernisasi adalah pertambahan jumlah penduduk di kota. Dalam perubahan sistem stratifikasi, pembagian kerja menjadi semakin rumit, bersamaan dengan meningkatnya jumlah spesialisasi, status cenderung berdasarkan atas prestasi, sebagai pengganti status berdasarkan asal-usul (ascription), terjadinya pergeseran dalam peluang hidup di berbagai strata sosial.

Selain itu, kecenderungan peningkatan status sosial wanita, perubahan di bidang pendidikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Di sini pendidikan menjadi sangat penting dalam membentuk manusia modern. Perubahan dalam bidang kehidupan keluarga juga tidak lepas dari pengaruh faktor modernisasi. Di mana pergeseran dari kawasan pedesaan ke kawasan urban, meningkatkan ketegangan hubungan antara anggota keluarga besar.

Keluarga kecil sering menjadi ide utama modernisasi. Masyarakat memiliki orientasi nilai budaya masa kini. Warganya ditandai oleh kebebasan yang semakin berkembang, kesetiaannya berkurang, perhormatannya terhadap individualitas orang lain semakin bertambah besar (Lauer, 2003). Lerner menyatakan bahwa manusia modern gemar mencari sesuatu sendiri, mempunyai kebutuhan untuk berprestasi dan gemar mencari sesuatu yang berbeda dari orang lain (Lerner, 1958).

Jadi manusia modern adalah manusia yang mampu berfungsi secara efektif dalam sebuah bangsa yang sedang mengalami pertumbuhan. Dalam teori modernisasi, Tipps menyebutkan teori dikotomi. Tipe teori ini adalah adanya proses transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Jadi ada dikotomi antara masyarakat tradisional dan modern. Menurut Herbert Spencer, masyarakat adalah sebuah organisme -sesuatu yang hidup-.

Dalam artian, masyarakat selalu mengalami pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan. Munculnya modernisasi seringkali dikaitkan dengan perubahan sosial, sebuah perubahan penting dari struktur sosial (pola-pola perilaku dan interaksi sosial) (Lauer, 2003). Dan sebaiknya kita melihat perubahan sosial sebagai sesuatu yang melekat pada sifat sesuatu, termasuk di dalam sifat kehidupan sosial.

Baca Juga: Memahami Makna Modernisasi

Ketika berbicara mengenai alam fisik, sejarah manusia atau intelektualitas manusia, kita menemukan bahwa tidak ada yang tetap, melainkan segala sesuatu selalu bergerak, dan berubah keadaannya. Realitas tidak statis, seperti yang diamati oleh filosof Yunani kuno, Heraclitus, bahwa semua makhluk senantiasa mengalir, terus-menerus berubah, terus-menerus tercipta dan lenyap.

Sebagaimana juga yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun mengenai teori siklus peradaban, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, selalu terjadi perpindahan gaya hidup, dari nomadic ke arah sedentary. Atau seperti yang dikatakan oleh Toynbee bahwa perpindahan (mutation) dari masyarakat primitif ke arah masyarakat beradab (civilized), atau dari kondisi yang statis ke arah dinamis, adalah suatu hal yang natural dalam sejarah peradaban kemanusiaan (Toynbee, 1947).

Perubahan itu dilalui dengan tiga proses: pertama, masa nomadic/badawah. Yakni, sebuah bentuk kehidupan yang dialami oleh kaum nomad di padang pasir, kaum Barbar di pegunungan, atau kaum Tartar di padang rumput. Kedua, masa pembentukan organisasi (al-umran). Yakni, sebuah masa untuk membentuk suatu kekuatan dalam bentuk ikatan (organisasi). Ketiga, masa peradaban (civilization).

Sebuah masa yang penuh dengan gaya hidup yang mewah, penuh dengan seni, pemikiran yang terbuka, bahkan sekuler, dan materialistik (Roshental, 1989). Sebagai contoh semenjak Orde Baru (1965), Indonesia menghadapi peningkatan ekonomi dan modernisasi, dengan ditandai oleh masuknya beberapa bentuk produk multi-nasional seperti Pizza Hut, Mc Donald’s, Wendy’s, ke wilayah ibukota, yang berimplikasi pada adanya perubahan (Bull, 1997).

Beberapa kalangan muda memakai pakaian jeans, pergi ke diskotik, dan meminum minuman beralkohol, karena mereka memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang modern, Barat. Untuk saat ini, kita akan menemukan hal-hal tersebut di beberapa tempat di dunia ini. Semua itu terjadi dengan cepat lantaran arus globalisasi. Dengan globalisasi, modernisasi yang muncul oleh bangsa-bangsa Barat diserap dengan cepat oleh bangsa-bangsa Asia.

Benjamin Barber menyatakan bahwa McWorld merupakan penjajah kultural. Ia akan menghancurkan segala bentuk kultur lokal dan mengubah menjadi tatanan pertokoan baru yang disebut dengan Mall. Perubahan itu juga terjadi dalam bidang pemikiran (intelektual). Sebagai contoh, bahwa abad modern ditandai oleh kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme, positivisme dari dogmatisme agama pada abad ke-17.

Metode ilmiah yang berwatak rasional dan empiris telah mengantarkan kehidupan manusia pada suasana modernisme (Burnhan, 1989). Jadi masyarakat modern secara intelektual adalah masyarakat rasional, didasarkan pada ilmu dan teknologi yang logis dan empiris. Memang perubahan terjadi di mana-mana dalam kehidupan sosial sepanjang masa. Terkadang ia terjadi secara tiba-tiba dan cepat.

Baca Juga: Islam dan Problematika Sosial

Yakni, ketika sistem suatu pemerintahan dihancurkan oleh revolusi dan digantikan oleh sistem baru. Terkadang perubahan juga terjadi secara lamban, yakni ketika anggota masyarakat itu yang melakukannya secara perlahan (Ahmed, 1986). Sering dikatakan bahwa manusia memiliki dominasi selaku mekanisme perubahan, namun tidak bisa disangkal bahwa manusia bertindak berdasarkan ide.

Contoh menarik perbedaan perilaku yang dihasilkan ideologi yang berbeda, disediakan oleh Spengler. Ia mencatat tanggapan penduduk Lisbon atas bencana gempa bumi tahun 1775 berbeda-beda. Para menteri melibatkan diri dalam tugas membangun kembali kota Lisbon. Para ilmuwan mencoba menentukan penyebab alamiah bencana itu. sejumlah pendeta memandang bencana itu sebagai hukuman Tuhan atas sebuah kota setan.

Mereka menyerukan umatnya agar lebih mendekatkan diri lagi ke alam kekuasaan kependetaan. Dalam artian, ada perbedaan tanggapan berdasarkan perbedaan ide mengenai sifat realitas. Menganggap ide atau ideologi sebagai variabel independen bagi perubahan sosial, menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara ideologi mempengaruhi perubahan? Jawabannya, ideologi berperan mencegah, merintangi, membantu atau mengarahkan perubahan.

Ideologi sebagai faktor penghambat perubahan. Karl Mannheim mendefinisikan ideologi sebagai sistem ide yang menghasilkan perilaku yang mempertahankan tatanan yang ada. Definisi ini bisa kita lihat dalam beberapa kasus di mana ideologi keagamaan telah merintangi atau menumpas perubahan. Sebagai contoh, pemikiran Kong Hu Chu di Cina yang berperan sebagai perintang perubahan karena pemikirannya yang mengidealkan masa lalu.

Ideologi juga sebagai faktor mempermudah perubahan. Dalam studinya tentang Etika Protestan dan semangat Kapitalisme, Weber menyatakan bahwa ideologi termasuk ideologi agama dapat mempermudah perubahan. Menurutnya, perkembangan kapitalisme sangat dipermudah oleh tekanan khusus pemikiran protestan. Pemikiran protestan membentuk kepribadian pengusaha yang aktivitasnya berpengaruh terhadap perkembangan kapitalisme.

Weber menunjukkan bahwa asketisme Kristen sebagai sumber pendekatan rasional dan sistematis yang mendorong kapitalisme, karena asketisme kristen secara sistematis dan rasional menata kehidupan moral individu. Di mana bermalas-malas, membuang-buang waktu adalah dosa besar. Bahkan Geertz menyatakan bahwa Islam modern bisa digunakan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Demikianlah bagaimana bukti bahwa ideologi agama dapat dijadikan sebagai faktor yang merintangi dan mempermudah perubahan. Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Sejarah Perkembangan Islam pada Periode Pertengahan dan Modern. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

1 Response to "Dampak Modernisasi dan Perubahan Sosial"

  1. Second, the S5 can be a a|could be a} bit hard to work with due to how massive it's. Bed leveling can also be|can be} a problem end result of} how massive the printing floor is. The S5 definitely isn't as easy to make use of as Creality’s smaller machines. Mittens If want to|you should|you have to} 3D print massive objects and desire a large-format possibility with the most functionality, reliability, and build quantity, the Creality CR-10 Max is the best selection.

    BalasHapus

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel