-->

Objek Kajian Ilmu Akhlak dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak

fikriamiruddin.com - Sejatinya, akhlak manusia mencakup mengenai kesadaran diri, terutama mengenai cara merefleksikan nilai-nilai ajaran agama yang diyakini ke dalam kehidupan kesehariannya. Akhlak mulia memiliki potensi besar untuk mendorong seorang manusia dalam menjalani kehidupan yang fana ini sesuai skenario Tuhan. Akhlak baik tentu mengacu pada tindakan-tindakan baik yang suci sesuai fitrah yang merupakan rancangan ilahi dalam menciptakan segenap alam semesta ini.

Ilmu Akhlak

Manusia yang sadar terhadap hakikat dirinya pasti akan melahirkan perilaku-perilaku mulia sebagaimana ungkapan man ‘arafa nafsah ‘arafa rabbah (siapa yang mengenal dirinya, pasti mengenal Tuhannya). Akhlak berkaitan erat dengan cara seorang manusia dapat menghayati nilai-nilai hidup ini secara sungguh-sungguh sebagaimana petunjuk Allah Swt. Karena itu, objek ilmu akhlak adalah jiwa manusia yang termanifestasi ke dalam perbuatannya.

Bagaimana manusia dapat memiliki jiwa yang bersih itulah yang dipelajari di dalam ilmu akhlak. Sebab dengan memiliki jiwa yang bersih, manusia akan dapat menyadari bahwa dirinya hadir di dunia ini semata-mata untuk menyembah kepada-Nya dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata melalui ekspresi dalam berinteraksi dan bersikap dengan sesama ciptaan-Nya. Selanjutnya, akan lahir pula kesadaran tertinggi terhadap nilai-nilai kehidupan ini.

Yakni, muncul sebuah keyakinan bahwa eksistensi dirinya berasal dari Allah dan suatu saat pasti akan kembali berpulang kepada-Nya. Dengan mengetahui semua seluk-beluk yang terkait dengan akhlak, maka manusia akan menggapai kehidupan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kebahagiaan hidup ini pasti tercapai manakala akhlak baik terpancar dari dalam jiwanya, inilah yang menjadi tujuan manusia dalam mempelajari ilmu-ilmu akhlak.

Akhlakul karimah yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari akan membawa manusia pada ketenangan dan kedamaian jiwa di bawah ridla Allah Swt. Mereka yang berakhlak baik akan dicintai kawan dan disegani lawan, sebab takwa selalu menjadi pakaian orang-orang yang berakhlak mulia ini. Mengenai rezeki pun tidak perlu dikhawatirkan, sebab Allah telah berjanji akan melapangkan rezeki bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya.

Sulit dibantah bahwa akhlak mulia yang terangkum dalam budi pekerti yang baik merupakan kata kunci bagi seorang manusia agar supaya dapat hidup berdampingan secara damai dengan komunitasnya di mana pun ia berada. Sebagian ulama seringkali menyebut akhlak dengan budi pekerti. Budi pekerti yang dimaksud adalah bersifat universal, sebab ia merupakan perhiasan dunia yang sangat mahal nilainya dan tidak dapat dinilai dengan materi.

Baca Juga: Pengertian Akhlak dan Ilmu Akhlak dalam Kajian Islam

Kualitas pribadi seorang manusia memang dilihat dari aspek perilakunya, yakni berupa perilaku baik atau buruk. Akhlak baik merupakan perilaku yang bisa dipelajari dan dibentuk sebab ia bukan sesuatu yang taken for granted. Setiap manusia mempunyai potensi untuk berperilaku baik sesuai dengan hadits Nabi Muhammad yang mengungkapkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan suci: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.”

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa lingkungan di mana manusia hidup memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk karakter pribadi yang baik atau buruk. Fitrah di sini diartikan dengan bersih dan suci, seperti kertas putih yang belum terwarnai sama sekali. Fitrah manusia merupakan pondasi yang mendasar bagi spiritualitas manusia dalam menangkap dan memahami kebenaran ilahi sebagaimana termaktub di dalam kitab suci-Nya.

Dengan kata lain, dapat dinyatakan bahwa ajaran-ajaran Tuhan berupa agama yang suci (hanif) adalah kelanjutan dari pemenuhan fitrah manusia yang suci. Kalau dicermati, kata akhlak rupanya memiliki akar yang sama dengan kata khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan). Meskipun dari aspek pengertiannya berbeda, namun hal ini mengisyaratkan bahwa manusia diciptakan dengan dasar dan potensi baik.

Esensi budi pekerti baik inilah prinsip penciptaan manusia. Seperti ayat yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Memang ayat tersebut lebih mengacu pada aspek fisik, namun apabila bentuk fisik yang terbaik di antara makhluk lainnya itu tidak disertai dengan akhlak yang baik pula, tentu akan muspra dan tidak bernilai di mata Tuhan dan makhluk-Nya.

Oleh karenanya, ketika seorang manusia berada di lembah dosa, tentu hati putihnya (nurani) masih memiliki kecenderungan pada hal-hal yang baik sesuai dengan yang dirancang Tuhan. Inilah bukti, bahwa setiap manusia sesungguhnya memiliki potensi baik, dan akhlak baik ini dapat dibentuk, diciptakan, dan wujudkan sesuai dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh manusia dan masyarakatnya.

Baca Juga: Memahami Makna Kesalehan Sosial

Karena lingkungan, menurut Nabi, sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter dan pribadi seorang manusia. Dengan demikian, maka tujuan akhir dari mempelajari ilmu akhlak adalah untuk mewujudkan dan merealisasi fitrah manusia kembali, agar supaya tercipta manusia-manusia yang memiliki pribadi dan pekerti yang baik. Inilah salah satu tujuan mengapa Nabi Muhammad Saw diutus ke dunia ini, yakni hanya untuk membimbing manusia supaya berbudi luhur.

Mungkin cukup sekian pembahasan kali ini, silahkan baca juga: Tahapan dalam Ritual Islam. Terima kasih banyak dan semoga bermanfaat.

0 Response to "Objek Kajian Ilmu Akhlak dan Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel